CV SENTRA MOBIL ( JUAL BELI MOBIL BEKAS )

TUGAS MANAJEMEN STRATEJIK
NAMA : SILVIA NINGSIH
NIM : 01109014
EKONOMI / AKUNTANSI

CV. SENTRA MOBIL JUAL BELI MOBIL BEKAS

LATAR BELAKANG
CV. Sentra mobil adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang jual beli mobil bekas, Dengan kondisi ekonomi yang sangat sulit ini, banyak sekali masyarakat yang tidak mampu untuk membeli mobil baru, baik yang secara tunai ataupun kredit.
Dari hasil survei ke beberapa show room mobil, akhir-akhir ini permintaan mobil second cukup tinggi. Terutama untuk harga mobil antara 50-100 juta. Sebagian besar para pembelinya adalah pengusaha, karyawan dan pegawai pemerintahan. Ada yang membeli secara tunai atau kredit. Untuk pembelian secara kredit, diserahkan kepada perusahaan leasing.
Mengingat saat ini kami juga bergelut dalam dunia bisnis mobil yaitu rental mobil, maka dalam menjalankan operasional jual-beli mobil tidak akan sulit saya akan jalani.

VISI

” Menjadi Perusahaan yang dapat menghantarkan masyarakat kepada kesejahteraan hidup “

MISI
• Menyediakan sarana sehingga masyarakat mudah mendapatkan kendaraan khususnya kendaraan roda empat.
• Memberikan fasilitas cicilan sehingga masyarakat dengan mudah mendapatkan kendaraan khususnya kendaraan roda empat.
• Memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk berperan serta dalam kegiatan usaha.
• Memandirikan Masyarakat dengan memberikan peluang usaha yang produktif.

TUJUAN
• Dengan adanya perusahaan jual beli mobil bekas di harapkan masyarakat lebih antusias untuk membeli kendaraan roda empat karena akses nya lebih mudah.
• Dengan pelayanan yang baik di harapkan masyarakat dapat membedakan perusahaan kami dengan para pesaing.
• Dengan adanya visi dan misi perusahaan, diharapkan akan memberikan dampak yang baik pada citra dan image perusahaan kami baik internal maupun eksternal serta diharapkan akan memberikan solusi bagi perkembangan perusahaan untuk lebih maju lagi kedepannya ditengah-tengah persaingan yang begitu ketat.
• Pengelolaan yang berorientasi pada pelayanan, kombinasi konsepsi pelayanan konvensional dan virtual : Responsif (respon yang cepat dan ramah), Dinamis, Informatif dan komunikatif
• Informasi yang up to date, komunikasi multi-arah yang dinamis
• Model pembayaran : transfer semua jenis bank.

Berdasarkan hasil-hasil yang didapat dari analisis internal dan eksternal pada tabel seperti dituliskan di atas, hasilnya dapat dirangkum sebagai berikut :

  1. Skor Total Kekuatan      :   2,21
  2. Skor Total Kelemahan   : -3,05
  3. Skor Total Peluang        :   3,12
  4. Skor Total Ancaman      : -3,05
Selain itu, penentuan koordinat dari gambar tsb adalah sebagai berikut :
Koordinat Analisis Internal  = (Skor total Kekuatan – Skor total Ancaman) : 2  = (2,21 – 3,05) : 2 = 0,42
Koordinat Analisis Eksternal   = (Skor total Peluang – Skor total Ancaman) : 2 = (3,12 – 3,05) : 2 = 0,35
Titik koordinat terletak pada ( 0,42; 0,35)
Berdasarkan gambar tersebut di ats, maka diketahui posisi unit usaha terletak pada kuadran II namun perlu diadakan penyempurnaan analisis dengan menghitung luasan wilayah pada tiap-tiap kuadran. Hasil perhitungan dari masing-masing kuadran dapat digambarkan pada tabel berikut di bawah ini :

 

 

Berdasar tabel tersebut di atas, maka diperoleh ranking luas matrik kuadran sebagai berikut :

  1. Ranking ke 1       : pada kuadran II dengan luas matrik 8,052
  2. Ranking ke 2       : pada kuadran III dengan luas matrik 6,488
  3. Ranking ke 3       : pada kuadran IV dengan luas matrik 6,344
  4. Ranking ke 4       : pada kuadran I dengan luas matrik 5,833

 

2. Tentukan juga keunggulan bersaing strategi perusahaan yang membuat perusahaan tersebut berbeda dengan pesaingnya gunakan generic strateginya Michael Porter ?

                                         Strategi Generik Porter

Strategi Diferensiasi

Sebuah strategi diferensiasi panggilan untuk pengembangan produk atau layanan yang menawarkan atribut unik yang dihargai oleh pelanggan dan bahwa pelanggan anggap lebih baik dari atau berbeda dengan produk kompetisi.Nilai ditambahkan oleh keunikan produk memungkinkan perusahaan untuk menetapkan harga premium untuk itu. Perusahaan itu berharap bahwa harga yang lebih tinggi akan lebih dari menutupi biaya tambahan yang timbul dalam menawarkan produk yang unik. Karena atribut yang unik produk, jika pemasok menaikkan harga mereka perusahaan mungkin dapat melewati sepanjang biaya kepada pelanggan yang tidak dapat menemukan produk pengganti dengan mudah.

Perusahaan yang berhasil dalam strategi diferensiasi sering memiliki kekuatan internal berikut:

  • Akses ke penelitian ilmiah terkemuka.
  • Produk yang sangat terampil dan kreatif pengembangan tim.
  • Kuat tim penjualan dengan kemampuan untuk berhasil mengkomunikasikan kekuatan yang dirasakan dari produk.
  • Perusahaan reputasi untuk kualitas dan inovasi.

Porter, Michael E. strategi kompetitif, Teknik untuk Menganalisis Industri dan Pesaing

Strategi kompetitif adalah dasar bagi banyak strategi bisnis modern. Dalam karya klasik, Michael Porter menyajikan pasukan lima dan strategi generik, kemudian membahas bagaimana mengenali dan bertindak berdasarkan sinyal pasar dan bagaimana untuk meramalkan evolusi struktur industri. Dia kemudian membahas strategi bersaing untuk muncul, dewasa, industri menurun, dan terfragmentasi. Bagian terakhir dari buku ini meliputi keputusan strategis berkaitan dengan integrasi vertikal, ekspansi kapasitas, dan masuk ke suatu industri.

Strategi Organisasi CV.Sentra Mobil

Keunggulan bersaing yang dimiliki CV.Sentra Mobil bila dilihat dari Generic Strategies Michael Porter, terletak pada differensiasi yang membangun persepsi orang terkait keunggulan kualitas, harga terjangkau,banyak diskon,cicilan cepat bunga ringan, serta pelayanan.

Karena memiliki keunggulan bersaing dalam hal differensiasi, tentu saja CV.Sentra Mobil mempunyai cara untuk mengembangkan usahanya, selalu mengasah dan memberi tarining SOP maupun produk karyawannya agar senantiasa bisa membuat customer nyaman dan senang untuk beli mobil ditempat kami,dengan pelayanan yang memuaskan.

Dengan dukungan sumber daya manusia yang kompeten di bidangnya, serta pelayanan yang berkualitas, tentu saja hal tersebut semakin memberikan nilai tambah bagi CV.Sentra Mobil untuk semakin dikenal masyarakat dan semakin banyak customer yang datang.

Oleh karena itu, dengan differensiasi yang dimiliki tersebut CV.Sentra Mobil dapat melakukan strategi-strategi diantaranya adalah :

1. Pengembangan Pasar (Market Development)

Di jaman modern saat ini CV.Sentra Mobil juga harus mengikuti perkembangan tekhnologi, CV.Sentra Mobil dapat masuk ke pangsa pasar industri, dengan memasang iklan di internet karena kebanyakan masyarakat ingin sesuatu yang lebih simple jadi bisa melihat barang lewat komputer.

2. Pengembangan Produk (Product Development)

Selain jual beli mobil bekas CV.Sentra Mobil juga melayani menjual mobil baru sesuai pesanan customer tentunya bisa dengan program cicilan lewat leasing. Selin itu juga untuk pelayanan transaksi lebih mudah dan terjangkau dengan menerima semua jenis pembayaran dengan Bank manapun juga bisa,jdi terlihat lebih efisien.

Kebijakan Perusahaan

  1. Mengembangkan jaringan internet agar bisa lebih dikenal masyarakat dan lebih modern.
  2. Memberikan training kepada karyawan agar bisa memberikan kepuasan kepada customer dan juga untuk  mengembangkan usaha CV.Sentra Mobil.

 

Program Kerja Organisasi

Seperti yang telah ditampilkan tabel diatas telah terdapat program kerja CV.Sentra Mobil, Dalam program kerja yang dibuat, harus mengandung competitive advantage sebagai berikut :

1. Cost Advantage, terdiri dari :

  • Variable cost
  • Biaya pemasaran
  • Biaya operasional

2. Differentation Advantage, terdiri dari :

  • Product differentiation
  • Service Quality
  • Brand reputation

3. Marketing Advantage, terdiri dari :

  • Distribution
  • Usaha penjualan
  • Brand Awareness

 

make a comment

Tugas SIA 2

Business Process Reengineering
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Siklus Business Process Reengineering.
Business Process Reengineering (BPR, Rekayasa ulang proses bisnis)
 adalah pemikiran kembali secara fundamental dan perancangan kembali
 proses bisnis secara radikal, dihasilkan dari sumber daya organisasi yang
 tersedia.
BPR menggunakan pendekatan untuk perancangan kembali cara kerja
dalam mendukung misi organisasi dan mengurangi biaya. Perancangan
ulang dimulai dengan penaksiran level tinggi terhadap misi organisasi,
tujuan strategis, dan kebutuhan pelanggan. Pertanyaan dasar yang
ditanyakan seperti “apakah misi kita harus diperjelas? Apakah tujuan
 strategis kita berjalan beriringan dengan misi kita? Siapa pelanggan kita?”
 Pengertian lain
Business Process Reengineering dikenal juga dengan istilah Business
 Process Redesign (Perancangan Ulang Proses Bisnis), Business
 Transformation, atau Business Process Change Management. Business
 Process Reengineering (BPR) dimulai sebagai teknik sektor privat untuk
mendukung organisasi secara fundamental memikirkan kembali bagaimana
 mereka mengerjakan bisnis yang mampu meningkatkan jasa kepada
pelanggan, memotong biaya operasional dan menjadi kompetitor kelas
 dunia. Kunci utama dalam perancangan ulang adalah pengembangan
 sistem informasi dan jaringan. Organisasi-organisasi besar semakin banyak menggunakan teknologi ini untuk lebih
 mendukung proses bisnis yang inovatif dibanding memperbaiki metode
 kerja pada saat yang sama.
BPR meliputi analisis dan perancangan alir kerja (workflow) dan proses-proses dalam sebuah organisasi. Berdasarkan Daven ports (1990),
 proses bisnis adalah sekelompok tugas-tugas yang saling berhubungan secara logis, dilaksanakan untuk mencapai
 sebuah hasil bisnis yang jelas.
Re-engineering (“rekayasa ulang”) adalah dasar dari perkembangan-perkembangan manajemen yang muncul belakangan ini. Tim lintas-fungsional (Cross-functional team), contohnya, telah banyak dikenal karena perannya dalam
perancangan ulang tugas-tugas fungsional yang terpisah menjadi proses-proses lintas-fungsional yang lengkap.
Proses bisnis dapat disusun kembali menjadi aktivitas-aktivitas spesifik, diukur, dimodelkan dan diperbaiki. Dapat pula dirancang
 ulang secara keseluruhan atau dieliminasi sekaligus. Perancangan ulang
mengidentifikasikan, menganalisa, dan merancang ulang proses inti bisnis
organisasi dengan tujuan untuk mencapai hasil maksimal dalam ukuran
kinerja kritis seperti biaya, kualitas, jasa dan kecepatan.
Perancangan ulang membagi-bagi proses bisnis menjadi sub-sub proses dan tugas yang dilaksanakan oleh beberapa area fungsional
 terspesialisasi dalam organisasi. Seringkali tidak seorang pun yang
bertanggung jawab atas kinerja keseluruhan proses. Perancangan ulang
 memaksimalkan kinerja subproses yang akan menghasilkan beberapa
keuntungan, namun tidak menjanjikan peningkatan yang dramatis jika
prosesnya sendiri tidak efisien dan tertinggal.
Untuk mencapai peningkatan yang maksimal dengan BPR, perubahan
stuktur organisasi dan cara lain seperti pengelolaan dan pelaksanaan
kerja saja dianggap belum cukup. Agar dapat mendapatkan keuntungan
secara penuh, penggunaan Teknologi Informasi (TI) dianggap penting
sebagai faktor kontributor utama.
Walau TI secara tradisional digunakan untuk mendukung fungsi bisnis
 yang tersedia, yaitu meningkatkan keefisienan organisasi, sekarang TI
berfungsi sebagai pendukung bentuk-bentuk organisasi yang baru dan pola-pola kolaborasi dalam dan antara organisasi.
BPR memperoleh fondasinya dari berbagai disiplin ilmu, dan ada 4
bagian penting yang diidentifikasi untuk diubah dalam BPR – organisasiteknologistrategi dan manusia (organization, technology,
strategy, and people) – dimana sebuah proses digunakan sebagai kerangka kerja (framework)
untuk memperhitungkan dimensi-dimensi itu. Pendekatan ini secara grafis digambarkan dalam “Leavitt’s diamond“.
Peran TI Teknologi informasi berperan penting dalam konsep perancangan ulang. Pada masa sekarang, TI merupakan pendorong besar bagi beberapa bentuk kinerja dan kolaborasi di dalam dan luar organisasi.
Beberapa peran TI dalam BPR:
· Basis data yang dibagi-bagikan (shared databases), membuat informasi tersedia pada banyak tempat.
· Sistem ahli (expert systems) memungkinkan para generalis untuk melaksanakan tugas spesialis.
· Jaringan telekomunikasi (telecommunication networks), memungkinkan organisasi dapat disentralisasikan dan didesentralisasikan dalam waktu yang sama.
· Perlengkapan pengambilan keputusan (decision-support tools), memungkinkan pengambilan keputusan menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari.
· Komunikasi data tanpa kabel (wireless data communication) dan komputer yang mudah dibawa (portable computer), memungkinkan personel lapangan bekerja secara independent.
· Videodisk interaktif (interactive videodisk), untuk mendapatkan kontak langsung dengan pembeli potensial.
· Identifikasi otomatis dan pelacakang (automatic identification and tracking), memungkinkan sesuatu untuk melaporkan dimana mereka berada bukan menunggu untuk ditemukan.
· Perhitungan kinerja tinggi (high performance computing), memungkinkan perencanaan on-the-fly (diciptakan pada saat dibutuhkan) dan perbaikan.
Untuk membuat kinerja yang lebih baik, seperti sebuah perusahaan tidak membutuhkan proses perbaikan, tetapi bebrapa di antara nya malah melakukan inovasi. Pada tahun 80 an istilah TQM (Total Qouality Management) diperkel\nalkan sebagai alat untuk melakukan proses perbaikan, tapi di tahun 90an Business Process Reengineering (BPR) diperkenalkan sebagai inovasi proses terutama bagi perusahaan Amerika Serikat dikarenakan adanya daya saing dari perusahaan Jepang. Istilah TQM dan BPR merupakan istilah yang sama untuk Sistem Manajemen Mutu yang memiliki system yang sama.
Business Process Reenginering (BPR) merupakan sebuah konsep tentang proses perbaikan dengan melakukan proses perubahan yang radikal berdasarkan proses bisnis. Hammer and Champy (In Jones 1997) menjadikan dasar berfikir kembali (rethinking) dan perancangan kembali (redesign) secara radikal untuk perbaikan dalam kinerja yang kontemporer seperti biaya, kualitas layanan dan kecepatan.
Terdapat lima langkah pendekatan model Business Process Reengineering menurut Davenport dan Short (1990) yaitu :
1. Mengembangkan visi dan proses tujuan bisnis. BPR yang mempunyai sebuah visi bisnis menunjukkan tujuan-tujuan yang spesifik seperti pengurangan biaya, pengurangan waktu dan peningkatan kualitas output.
2. Melakukan identifikasi terhadap proses bisnis yang akan di desain ulang, pada umumnya perusahaan menggunakan pendekatan yang berfokus pada proses yang paling penting atau yang mempunyai konflik yang paling tinggi dengan visi bisnis. Sedangkan beberapa perusahaan lebih memilih untuk menggunakan pendekatan menyeluruh untuk mengidentifikasi semua proses dalam suatu organisasi dan prioritas dalam urutan redisgn.
3. Memahami ukuran dari proses yang ada untuk menghindari pengulangan kesalahan untuk untuk memberikan dasar dalam perbaikan di masa yang akan dating.
4. Mengidentifikasi tingkat kemampuan IT dalam mempengaruhi BPR.
5. Merancang dan membuat prototype proses yang baru.
Sedangkan menurut Johansson terdapat 3 tahap dalam BPR Life cycle :
1. Discover : yaitu menetapkan visi dan strategi bisnis
2. Redisign : meliputi semua aktivitas dan keahlian yang dibutuhkan
3. Realize : teknik manajemen perubahan, pembentukan BPR team , komunikasi, pengukuran kinerja dan manajemen resistensi.
Kunci Keberhasilan BPR
Beberapa komponen merupakan factor yang sangat kritis terhadap sukses nya BPR. Pertama, pada tahap awal BPR harus diintegrasikan dengan visi perusahaan, ttujuan dan strategi. Proses bisnis baru harus didesain dan konsisten dengan aspek-aspek perubahan. Tidak semua proses didalam organisasi harus didesain ulang. Beberapa proses mungkin memerlukan BPR sedang yang lainnya membutuhkan pendekatan perbaikan incremental seperti TQM. Hal ini merupakan ide yang baik untuk mengklasifikasikan proses dalam dua grup yang pertama terdiri dari proses yang membutuhkan perubahan inovatif sedangkan yang lain hanya membutuhkan perbaikan incremental. Antara proses yang membutuhkan perubahan yang inovatif adalah proses yang menciptakan nilai tambah terbesar untuk konsumen haruslah yang pertama kali didesain ulang.
Kedua komitmen manajemen puncak, dan pengetahuan dari BPR dibutuhkan untuk sukses nya proyek BPR. Komitmen dan sponsorship dibuthkan selama proyek BPR. Manajemen puncak diinformasikan selama proses BPR melalui komunikasi dengan tim perubahan. Ketiga, kelayakan dari BPR harus melaui penelitian “financial capability technological ability, managerial/operational ability” dari organisasi harus dinilai. Perusahaan harus mengevaluasi kapasitas mereka dalam mendukung suskes nya BPR.
Keempat, perubahan organisasi mengakibatkan perubahan budaya organisasi, system nilai, gaya manajemen harus disesuaikan dengan redesain proses. BPR yang sukses membutuhkan restrukturisasi yang lengkap pada penggerak kunci dari perilaku organisasi. Peranan dan tanggung jawab, pengukuran kinerja dan insentif, struktur organisasi, IT, system nilai dan keahlian harus diubah sebagai hasil dari BPR. Kelima, implementasi harus dimulai dari tahap awal dan seluruh organisasi harus terlibat di dalam perubahan proses terutama perencanaa perubahan proses dibutuhkan untuk suksesnya BPR.
Terakhir, BPR harus terintegrasi dengan process-based management tools yang lain seperti TQM, benchmarking, process mapping dan team based operation. Inovasi radikal dan continous improvement dapat dicapai secara stimultan dengan menintegrasukan process-based management diatas.
Kegagalan Penerapan BPR
Perusahaan memiliki keinginan untuk mengubah ketidakefisienan proses yang mengakibatkan menurunnya pangsa pasar, ketidakpuasaan pelanggan, saingan dan tantangan. Kesalahan dalam penerapan BPR seringkali terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap BPR itu sendiri, BPR sering dianggap sebagai reengineerimg yang sifatnya imtuitif, kreatif dan bukannya sebagai usaha dari suatu teknik disiplin. Ketidakmampuan untuk melakukan BPR terjadi karena beberapa alasan yaitu kurang nya metodologi yang aktif, proses dan tujuan yang salah pada teknologi informasi dan kurang nya pengelolaan komitmen

PENGERTIAN PROTOTYPE

Prototyping merupakan salah satu metode pengembangan perangat lunak yang banyak digunakan. Dengan metode prototyping ini pengembang dan pelanggan dapat saling berinteraksi selama proses pembuatan sistem.
Sering terjadi seorang pelanggan hanya mendefinisikan secara umum apa yang dikehendakinya tanpa menyebutkan secara detal output apa saja yang dibutuhkan, pemrosesan dan data-data apa saja yang dibutuhkan. Sebaliknya disisi pengembang kurang memperhatikan efesiensi algoritma, kemampuan sistem operasi dan interface yang menghubungkan manusia dan komputer.
Untuk mengatasi ketidakserasian antara pelanggan dan pengembang , maka harus dibutuhakan kerjasama yang baik diantara keduanya sehingga pengembang akan mengetahui dengan benar apa yang diinginkan pelanggan dengan tidak mengesampingkan segi-segi teknis dan pelanggan akan mengetahui proses-proses dalm menyelasaikan system yang diinginkan. Dengan demikian akan menghasilkan sistem sesuai dengan jadwal waktu penyelesaian yang telah ditentukan.
Kunci agar model prototype ini berhasil dengan baik adalah dengan mendefinisikan aturan-aturan main pada saat awal, yaitu pelanggan dan pengembang harus setuju bahwa prototype dibangun untuk mendefinisikan kebutuhan. Prototype akan dihilangkan sebagian atau seluruhnya dan perangkat lunak aktual aktual direkayasa dengan kualitas dan implementasi yang sudah ditentukan.
Tahapan-tahapan Prototyping
Tahapan-tahapan dalam Prototyping adalah sebagai berikut:
1. Pengumpulan kebutuhan.
Pelanggan dan pengembang bersama-sama mendefinisikan format seluruh perangkat lunak, mengidentifikasikan semua kebutuhan, dan garis besar sistem yang akan dibuat.
2. Membangun prototyping.
Membangun prototyping dengan membuat perancangan sementara yang berfokus pada penyajian kepada pelanggan (misalnya dengan membuat input dan format output).
3. Evaluasi protoptyping.
Evaluasi ini dilakukan oleh pelanggan apakah prototyping yang sudah dibangun sudah sesuai dengan keinginann pelanggan. Jika sudah sesuai maka langkah 4 akan diambil. Jika tidak prototyping direvisi dengan mengulangu langkah 1, 2 , dan 3.
4. Mengkodekan system.
Dalam tahap ini prototyping yang sudah di sepakati diterjemahkan ke dalam bahasa pemrograman yang sesuai.
5. Menguji system.
Setelah sistem sudah menjadi suatu perangkat lunak yang siap pakai, harus dites dahulu sebelum digunakan. Pengujian ini dilakukan dengan White Box, Black Box, Basis Path, pengujian arsitektur dan lain-lain
6. Evaluasi Sistem.
Pelanggan mengevaluasi apakah sistem yang sudah jadi sudah sesuai dengan yang diharapkan . Juka ya, langkah 7 dilakukan; jika tidak, ulangi langkah 4 dan 5.
7. Menggunakan system.
Perangkat lunak yang telah diuji dan diterima pelanggan siap untuk digunakan.
Keunggulan dan Kelemahan Prototyping.
Keunggulan prototyping adalah:
1. Adanya komunikasi yang baik antara pengembang dan pelanggan
2. Pengembang dapat bekerja lebih baik dalam menentukan kebutuhan pelanggan
3. Pelanggan berperan aktif dalam pengembangan system
4. Lebih menghemat waktu dalam pengembangan system
5. Penerapan menjadi lebih mudah karena pemakai mengetahui apa yang diharapkannya.
Kelemahan prototyping adalah :
1. Pelanggan kadang tidak melihat atau menyadari bahwa perangkat lunak yang ada belum mencantumkan kualitas perangkat lunak secara keseluruhan dan juga belum memikirkan kemampuan pemeliharaan untuk jangja waktu lama.
2. Pengembang biasanya ingin cepat menyelesaikan proyek. Sehingga menggunakan algoritma dan bahasa pemrograman yang sederhana untuk membuat prototyping lebih cepat selesai tanpa memikirkan lebih lanjut bahwa program tersebut hanya merupakan cetak biru sistem .
3. Hubungan pelanggan dengan komputer yang disediakan mungkin tidak mencerminkan teknik perancangan yang baik.
Prototyping bekerja dengan baik pada penerapan-penerapan yang berciri sebagai berikut:
1. Resiko tinggi Yaitu untuk maslaha-masalah yang tidak terstruktur dengan baik, ada perubahan yang besar dari waktu ke waktu, dan adanya persyaratan data yang tidak menentu.
2. Interaksi pemakai penting . Sistem harus menyediakan dialog on-line antara pelanggan dan komputer.
3. Perlunya penyelesaian yang cepat.
4. Perilaku pemakai yang sulit ditebak
5. Sitem yang inovatif. Sistem tersebut membutuhkan cara penyelesaian masalah dan penggunaan perangkat keras yang mutakhir
6. Perkiraan tahap penggunaan sistem yang pendek
Terdapat 3 pendekatan utama prototyping, yaitu:
· THROW-AWAY
Prototype dibuat dan dites. Pengalaman yang diperoleh dari pembuatan prototype digunakan untuk membuat produk akhir (final), kemudian prototype tersebut dibuang (tak dipakai).
· INCREMENTAL
Produk finalnya dibuat sebagai komponen-komponen yang terpisah. Desain produk finalnya secara keseluruhan haya ada satu tetapi dibagi dalam komonen-komponen lebih kecil yang terpisah (independent).
· EVOLUTIONARY
Pada metode ini, prototipenya tidak dibuang tetapi digunakan untuk iterasi desain berikutnya. Dalam hal ini, sistem atau produk yang sebenarnya dipandang sebagai evolusi dari versi awal yang sangat terbatas menuju produk final atau produk akhir.
Dalam software engineering telah dikenal banyak tools (computer-base system) yang dikenal dengan Computer-Aided Software Engineering (CASE). CASE merupakan suatu teknik yang digunakan untuk membantu satu atau beberapa fase dalam life-cycle software, termasuk fase analisis, desain, implementasi dan maintenance dari software tersebut.
Manfaat CASE tools untuk software engineer dijabarkan sebagai berikut:
1. CASE tools memperbesar kemungkinan otomatisasi pada setiap fase life-cycle software.
2. CASE tools sangat membantu dalam meningkatkan kualitas design model suatu software sebelum software itu dibangun/dikembangkan, baik itu untuk software yang dibangun dalam simple maupun complex environment.
Ada banyak tools yang mendukung pembangunan/pengembangan suatu software. Agar tidak membingungkan, CASE tools dibagi menjadi beberapa kategori:1. Information engineering-supporting products. Ada beberapa proses dari life-cycle, yang dihasilkan dari rencana strategis dari perusahaan dan yang menyediakan suatu repository untuk membuat dan memelihara enterprise models, data models dan process models.

2. Structured diagramming-supporting products. Produk ini sangat mendukung dalam memodelkan data flow, control flow dan entity flow.

3. Structured development aids-providing products. Merupakan produk yang cocok digunakan oleh sistem analis, karena didukung oleh suatu proses terstruktur sehingga penganalisaan lebih cepat dan akurat.

4. Application-code-generating products. Produk ini mampu menghasilkan application-code untuk tujuan tertentu yang telah ditetapkan oleh designer.

make a comment

Tugas Individu

Iklan Mendidik :

Salah satu contoh iklan mendidik adalah iklan teh sariwangi,disini yang saya kutip adalah iklan teh sariwangi versi “ atap bocor “ yaitu menceritakan seorang istri yang ingin suaminya membenahi atap rumahnya yang bocor tapi si istri tidak mau menggangu sang suami,akhirnya si istri mengungkapkannya dengan kata lembut dan membuatkan teh pada suami agar suasana menjadi hangat.

Pesan yang terkandung dalam iklan ini adalah tentang keharmonisan keluarga/kesetiaan istri terhadap suami.Dimana disini dijelaskan bahwa istri harus selalu bisa memahami kondisi suami dan bagaimana cara mengungkapkan perasaan istri terhadap suami dengan nada yang lembut agar si suami bisa memahami maksud istri melakukan apa yang dikatakan istri,yaitu dengan mengajak si suami nge teh dulu agar situasi hangat dan selalu bahagia di setiap kondisi apapun.

Dalam iklan ini sama sekali tidak ada unsur kekerasan sehingga sangat mendidik buat keluarga,sangat aman untuk dsilihat semua kalangan dari anak-anak sampai orang tua dan merupakan contoh yang sangat positif,dan iklan ini juga bisa mgurangi terjadinya KDRT(Kekerasan Dalam Rumah Tangga) yang sangat banyak kita lihat di televisi,dengan iklan ini saya yakin bisa djadikan contoh untuk para istri bagaimana memahami suami agar tidak terjadi kekerasan dalam keluarga.

IKLAN TIDAK MENDIDIK.

Salah satu contoh iklan yang tidak mendidik adalah iklan kopi susu “ ya !“ dimana iklan tersebut sangat alay dan norak,hanya iklan kopi saja bisa sampai heboh dengan model cewek seksi dengan goyangan erotis yang seharusnya tidak pantas untuk disiarkan karena bisa merusak mental – mental anak bangsa karana media televisi penontonnya dari semua kalangan baik anak – anak maupun orang dewasa.

Dengan muncul iklan seperti itu adalah pemicu tindakan kriminal dan asusila yang sangat banyak sekali pada saat ini,dimana anak SMP saja sudah banyak yang hamil,itu disebabkan karena bebasnya iklan – iklan yang tidak sepantasnya di tayangkan seperti gambar- gambar di atas.

Untuk ukuran iklan kopi saja tidak harus seheboh gambar diatas,menurut saya sebaiknya mencontoh iklan teh sariwangi diatas yang sudah saya tampilkan di halaman sebelumnya.Mungkin bisa dikreatifkan lagi atau kalau bisa lebih mendidik lagi,sehingga tidak akan merusak generasi- generasi bangsa.Alangkah indahnya jika negara kita aman,tentram dan tidak ada tindakan anarki akibat pengaruh iklan- iklan yang tidak bermutu dan sangat tidak komersial seperti diatas.

Sumber informasi :

http://www.google.co.id/search?tbm=isch&hl=id&source=hp&biw=994&bih=600&q=teh+sariwangi&gbv=2&oq=TEH+SARI&aq=0&aqi=g3g-S2&aql=&gs_sm=c&gs_upl=2201l7094l0l9529l8l8l0l1l1l0l377l1436l0.1.2.2l5

Iklan Mendidik                                                                                           Iklan tidak mendidik

 

make a comment

TRANSLATE JURNAL

Tata Kelola Perusahaan Sistem dan Nilai Perusahaan:
Bukti Empiris dari Alam Percobaan Jepang Robert N. Eberhart
SPRIE Fellow
Stanford Program Kawasan Inovasi dan Kewirausahaan
Stanford University
(650) 725-0121
(650) 723-6530 (Fax)
ABSTRAK
Penelitian ini menggunakan data panel untuk mengeksplorasi efisiensi ekonomi sistem tata kelola perusahaan denganmenguji efek cross-sectional perbedaan antara perusahaan-perusahaan Jepang memilih salah satu dari duasistem hukum. Makalah ini menyajikan bukti bahwa adopsi oleh perusahaan-perusahaan Jepang yang shareholderoriented,lebih transparan, sistem tata kelola perusahaan menciptakan nilai perusahaan yang lebih besar dalamdibandingkan dengan sistem tradisional auditor hukum. Efeknya tidak hanya signifikan, itu adalahpenting dalam besarnya. Makalah ini mengambil keuntungan dari kesempatan unik diberikan olehJepang pengenalan sistem dual tata kelola perusahaan pada tahun 2003, ketika perusahaan sedangmenawarkan pilihan untuk mengadopsi sistem baru direksi luar, yang merupakan pemegang saham yang berorientasikomite sistem. Analisis data menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam penilaian perusahaan, yang diukur dengan Q Tobin, bagi perusahaan yang mengadopsi sistem komite, meskipun perbandingan keuangan Data menunjukkan sedikit perbedaan. Temuan ini disebabkan sinyal pengiriman, sebagai perusahaan yang mengadopsi sistem sinyal pilihan menuju transparansi melalui pemantauan oleh pihak luar, menunjukkanpengurangan biaya agensi asimetris. Kata kunci: Corporate Governance, Jepang, Komite Sistem, Direksi
Saya mengucapkan terima kasih bantuan tak ternilai, saran editorial konstruktif, dan saran dari Martin Kenney, Masahiko Aoki, Charles O’Reilly, Ulrike Schaede, George Foster, Christina Ahmadjian, Rafiq Dossani, Richard Dasher, Henry Rowen, William Miller, Avner Kesedihan, Mamiko Yamashita, Takuro Yamashita, dan Shinji Ide. Kesalahan dalam makalah ini sepenuhnya dan benar-benar sendiri. Tersedia di Elektronik salinan:http://ssrn.com/abstract=17392922
1. PENDAHULUAN
Gejolak ekonomi baru-baru telah memfokuskan kembali pemeriksaan sistem tata kelola perusahaan. Dilihat oleh beberapa pengamat sebagai standar tata kelola perusahaan, sistem AS shareholderoriented pemerintahan oleh komite dewan dan direktur independen telah datang di bawah pemeriksaan ulang. Sebelum September 2008, beberapa aliran pemikiran akademis digambarkan de facto konvergensi pada model pemerintahan AS karena, itu beralasan, efisiensi ekonomi akan memotivasi pemerintah mencari sistem yang efisien untuk mengadopsi struktur hukum untuk meniru norma-norma AS. Di Jepang, perusahaan-perusahaan seperti Sony dan Hitachi berusaha untuk menciptakan Anglo-Amerika tingkat perusahaan tata kelola lembaga dalam hukum yang kemudian ada, (Nottage dan Wolff 2005), dan asing pemegang saham memberikan pengaruh untuk merevisi praktek tata kelola perusahaan, (Simon dan Deakin 2009). Namun, pertanyaan apakah sistem tata kelola perusahaan yang berbeda hasil perusahaan indemonstrably diferensial nilai sehingga seharusnya keuntungan efisiensi yang dapat mendorongkonvergensi dapat dipelajari-tidak sepenuhnya ditangani. Sekarang, dengan US tata kelola perusahaan praktek yang dipanggil ke pertanyaan untuk kegagalan insentif dan inefficacies pemantauan, pemeriksaan peningkatan efisiensi diklaim dari pemerintahan Anglo-Amerika perusahaan sistem tampaknya menguntungkan. Meskipun penelitian akademis berlimpah di perbandingan sistem tata kelola perusahaan,
mana banyak perhatian diberikan kepada masalah konvergensi, masalah tetap tidak terpecahkan. (Jacoby 2002), berpendapat bahwa ekonomi yang dinamis dan meningkatkan nilai aset di pasar keuangan selama tahun 1990-berbeda dengan Jepang dan Eropa-mendorong perusahaan untuk mencari listing di AS pertukaran dan akibatnya menyebabkan perusahaan-perusahaan untuk menerapkan praktek perusahaan AS. Lain sarjana mengambil posisi bahwa efisiensi ekonomi drive sistem tata kelola perusahaan terhadap konvergensi, (Hansmann dan Kraakman 2001). Memang, mereka mengusulkan konvergensi yang menuju Anglo-Amerika pemegang saham model berorientasi telah terjadi, untuk apa Nottage dan Wolff (2005) disebut “pemegang saham model berorientasi tata kelola perusahaan, yang melibatkan luas penggunaan mekanisme berbasis pasar kontrol untuk memandu aktivitas perusahaan dan hukum perusahaan “Ada.
beberapa bukti bahwa setidaknya konvergensi pendapat tentang prinsip-prinsip tata kelola perusahaan, seperti sebagai kebutuhan sistem informasi yang transparan (Khanna, Kogan et al. 2006), atau Amerika Serikat pasar untuk kontrol korporat (Jensen dan Ruback 1983) telah terjadi. Sebaliknya, ulama lainnya, misalnya, (Bebchuk dan Roe 1999), (Schmidt dan Spindler
2002), dan (Gordon, Roe et al. 2004), berpendapat bahwa sifat jalan-tergantung dari perusahaan
struktur pemerintahan – melalui kehadiran biaya hangus, logika tata kelola perusahaan,
complimentarity, atau inersia institusional – menyiratkan bahwa konvergensi pun akan bertahap jika tidak menghadapi perlawanan langsung. Selain itu, sastra komparatif analisis kelembagaan menunjukkan pathdependence dari sistem tata kelola perusahaan yang berasal dari lokal mendasari organisasi dan industri arsitektur (Aoki dan Jackson 2008), atau sejarah-ekonomi
konteks (Duka 2006). Gilson mengusulkan bahwa, bahkan jika praktek-praktek pemerintahan harus mengikuti pathdependent lintasan dan mempertahankan struktur formal, mungkin ada konvergensi dalam fungsi, diberikan kekuatan ekonomi yang sama, (Gilson 2001).
Corporate governance memainkan peran penting dalam memantau keuangan yang efisien dan dengan demikian pemegang saham perlindungan, yang mempengaruhi penilaian perusahaan yang diukur dengan Tobin q (Wolfe dan Sauaia 2003); (Morck, Shleifer et al 1988);. (Pacheco-de-Almeida, Hawk et al 2008).. Literatur tambahan pada asosiasi dari sistem perusahaan dengan kinerja perusahaan telah dibuat ekstensif menggunakan q (Shleifer dan Vishny 1997); (Denis dan McConnell 2003).
Hubungan antara fitur dan kinerja tata kelola perusahaan yang mapan, Brown dan Caylor (2006) menemukan hubungan antara perusahaan diukur dengan nilai sebagai Tobin’s-q menggunakan
Pemegang Saham Kelembagaan Layanan database untuk perusahaan skor dengan tujuh dimensi
tata kelola perusahaan dan menemukan penilaian positif terkait dengan skor, (Brown dan Caylor 2006). Miyajima (2006), menggunakan metode yang serupa, mempelajari kinerja perusahaan Jepang di bawah berbagai corporate governance oleh variasi skor menugaskan untuk menormalkan kebijakan perusahaan untuk studi kinerja perusahaan. Dia menemukan bahwa perusahaan-perusahaan Jepang dengan skor yang lebih tinggi memang memiliki performa yang lebih baik yang diukur dengan tingkat pengembalian aset dan Tobin q. Kertas yang menemukan bahwa peningkatan ekonomi tekanan dari pasar modal Jepang mendorong manajer perusahaan untuk upaya perusahaan pemerintahan reformasi dan menemukan reformasi lebih cenderung semakin tinggi persentase investor asing dan persentase yang lebih rendah jangka panjang, pemegang saham stabil. Gompers et al, (2003), menemukan bahwa perusahaan dengan hak pemegang saham lebih sedikit memiliki penilaian lebih rendah, (Gompers, Ishii et al. 2003). Hitam, et al,(2006) menemukan bahwa perusahaan di Korea dengan proporsi tinggi direksi luar memiliki nilai yang lebih tinggi, (Black, Jang et al. 2006). Karena sangat jarang bagi negara untuk mengatur dua sistem paralel, studi intracountry keunggulan tata kelola perusahaan cenderung mengandalkan penilaian penilaian dari pemerintahan praktek. Lintas-nasional penelitian, (Bebchuk dan Cohen, 2005; Bebchuk et al, 2005.; Cremers dan Nair, 2005) telah menggunakan Responsibility Investor Research Center (IRRC)database untuk tingkat tata kelola perusahaan dengan skor, dan telah menemukan bahwa tata kelola pemerintahan yang lebih baik adalah terkait untuk valuasi perusahaan yang lebih tinggi diukur dengan Tobin Skor Q. menghasilkan nomor tunggal terhadap mana perusahaan dapat dibandingkan dan penilaian dinilai. Di sisi lain, Bebchuk dan Hamdani (2009) berpendapat bahwa nilai mungkin tidak secara akurat mencerminkan fit dari sistem pemerintahan di ekonomi nasional ekologi. Apa yang mungkin menjadi sistem pemerintahan yang gratis dan menguntungkan dalam ekologi yang mungkin tidak menguntungkan dalam ekologi yang berbeda. Dalam pengertian ini, tidak
harus mengikuti bahwa suatu praktek pemerintahan di satu ekonomi dapat ditransfer atau bahkan
dievaluasi melalui lensa analisis yang lain, (Bebchuk dan Hamdani 2009). Resolusi perdebatan antara konvergensi dan jalan-ketergantungan tidak sempurna diselesaikan karena sulit untuk mengadili dengan hanya bekerja teoritis dan empiris pemeriksaan sistem tunggal dalam domain ekonomi mau tidak mau dikacaukan oleh lokal kondisi mereka berubah dari waktu ke waktu. Dengan demikian, studi empiris yang cukup untuk menetapkan konvergensi, di luar pemahaman analitik perubahan sistem, tetap sulit dipahami. Crossnational perbandingan dikacaukan oleh dinamika ekonomi fundamental dan jarang dilakukan ketika beragam rezim tata kelola perusahaan yang masih ada pada saat yang sama dalam sistem nasional, mereka berfokus pada tujuan-tujuan hukum yang berbeda, mengatakan kemitraan dibandingkan korporasi, dan dengan demikian hukumperbedaan fungsional mengacaukan perbandingan efisiensi.
Sebuah perbandingan yang wajar untuk analisis mensyaratkan bahwa sistem tata kelola perusahaan yang hidup berdampingan dalam sebuah ekosistem ekonomi sehinggaefisiensi komparatif dan mungkin konvergensi itu sendiri dapat diamati. Jepang memberikan kesempatan untuk studi ini teka-teki empiris dalam undang-undang diundangkan di 2002 memungkinkan dua sistem tata kelola perusahaan untuk beroperasi secara bersamaan dalam perusahaan yang sama
domain, saham Jepang mengeluarkan perusahaan publik. Kode Komersial Jepang revisi
2002 diperkenalkan sistem panitia baru yang mirip dengan sistem Anglo-Amerika, yang dirancang sengaja sebagai pesaing sistem pemangku kepentingan yang berorientasi kemudian ada. Pada April 2009, 112 perusahaan publik, termasuk kelompok-kelompok bisnis terkemuka seperti Hitachi, Nomura, dan Sony, mengadopsi system1 baru. Studi ini mengusulkan bahwa dengan memeriksa perbedaan dalam nilai antara perusahaan-perusahaan dalam perekonomian nasional yang sama pada saat yang sama, data yang berguna yang mungkin dihasilkan
dapat berkontribusi untuk pertanyaan ini. Kesempatan tersebut untuk belajar, dengan memiliki dua struktur hukum beroperasi dalam satu perekonomian pada saat yang sama, yang jarang tersedia. Sejak ditetapkannya undang-undang perusahaan yang baru membangun sistem paralel, beberapa studi empiris telah membandingkan dua sistem diberi sedikit waktu yang telah berlalu sejak perusahaan mulai mengadopsi sistem baru. Menggunakan acara-studi metode untuk memeriksa harga saham, (Gilson dan Milhaupt 2004) menemukan sedikit perbedaan nyata dalam nilai perusahaan sebagai diuji oleh lintasan harga saham. Baru-baru ini, (Buchanan dan Deakin 2007) melakukan survei terhadap CEO, direktur dan manajer senior, akademisi dan pejabat pemerintah untuk menentukan bagaimana penilaian berbeda dari eksperimen tata kelola perusahaan Jepang adalah. Mereka menemukannya paradoks bahwa perubahan dalam praktek tata kelola perusahaan tidak tergantung pada apakah perusahaan memilih sistem iinkai atau tidak. Selanjutnya, mereka menyimpulkan bahwa adopsi struktur barat, seperti yang diharapkan dalam sistem iinkai, tidak mengakibatkan terjadinya praktek aktual yang menyimpang secara luas dari
lebih tradisional model. Resolusi ini paradoks adalah sulit tanpa bukti empiris dari nilai, perbandingan intra-ekonomi dari perubahan perusahaan komparatif. Makalah ini, mencari untuk mengatasi kebutuhan empiris, meneliti perubahan komparatif dalam nilai perusahaan pada perusahaan Jepang adopsi dari sistem komite perusahaan pemerintahan terhadap nilai perusahaan yang tidak mengubah, dan menemukan lebih tinggi nilai di antara mengadopsi perusahaan. Ini mungkin bahwa dengan memilih sistem baru, manajemen dimana menyerahkan nya
1 Menariknya, selain Nomura, empat puluh tujuh swasta, perusahaan yang baru terbentuk juga telah mengadopsi iinkai sistem pada 2008. (Teikoku Data Bank, 2008).buku dan catatan lainnya untuk direktur luar untuk pemeriksaan, jauh dari pengawasanCEO dan dewan direksi, perusahaan sinyal kesediaan untuk diperiksa oleh pihak luar. 2 Untuk sejauh bahwa transparansi adalah pengungkapan informasi yang akurat kepada pihak luar, (Bushman, Piotroski et al. 2004), sistem iinkai lebih transparan dan oleh karena itu akan bertambah besar nilai dalam pasar modal. Implikasi dari hasil ini adalah relevan dengan penelitian pada perusahaan pemerintahan konvergensi serta biaya agensi dari asimetri informasi. Bagian 2 akan menggambarkan sifat hukum dan fungsional dari dua rezim tata kelola perusahaan dan paralel
membandingkan mereka deskriptif; Bagian 3 berisi metodologi untuk hasil empiris di
kertas menggunakan analisis univariat, studi acara, dan analisis regresi. Bagian 4 membahas
hasil dan Bagian 5 menyimpulkan. 2. Jepang Perubahan Tata Kelola Perusahaan
Dalam apa yang telah datang untuk disebut “J-perusahaan” (Aoki 1990); (Aoki dan Dore 1994), menjelaskan sistem pemerintahan kontingen perusahaan Jepang karakteristik dari periode pascaperang. Para perusahaan mengelola urusannya sendiri, diawasi oleh dewan biasanya terdiri dari orang dalam dipromosikan dari jajaran manajerial – kecuali perusahaan menemukan dirinya dalam kesulitan keuangan. Dalam yang kontingensi, para penyandang dana perusahaan, biasanya bank, akan menyelamatkan atau melikuidasi perusahaan (Aoki dan Patrick 1994). Pada bagian untuk mendeteksi kemungkinan seperti itu, monitor, atau komite pemantau, disebut “auditor hukum,” atau kansayaku dalam bahasa Jepang, yang disewa untuk mengaudit dan menyajikan
keuangan dan hukum kondisi perusahaan kepada pemegang saham, (JCAA 2008). Selain itu, sementara pemegang saham memilih auditor, ia dicalonkan oleh dewan, yang terdiri dari manajer yang 3 Dalam hukum Jepang, “di luar” direksi secara hukum berbeda dari konsep yang lebih Anglo-Amerika “independen” direksi. Dalam hukum Jepang, “di luar,” sementara yang berarti petugas tidak, dan tidak pernah, digunakan oleh subjekperusahaan; ikatan keluarga, afiliasi, dan menjadi karyawan sebuah perusahaan induk, sesuai dengan definisi hukum dari “luar”
direktur. melaporkan kepada CEO yang, pada gilirannya, dianggap untuk mendistribusikan informasi auditor ‘antara stakeholder.
Kritik praktisi akademis dan bisnis yang luas muncul dari pemerintahan kontingen dan terkait sistem pemantauan selama tahun 1980 dan dipercepat pada 1990-an dalam menanggapi
terhadap perubahan dalam lingkungan sosial-ekonomi Jepang di Awal pasca-gelembung period.3 di 1997, dalam menanggapi kritik-kritik ini, perlambatan ekonomi yang luas terus dan ekuitas
pasar boom di Amerika Serikat, Jepang mengalami serangkaian reformasi agresif untuk yang
struktur tata kelola perusahaan hukum, (Schaede 2008). Saham pilihan rencana dan pembelian kembali dari saham perusahaan telah dibebaskan, hukum merger ditulis ulang, perusahaan induk diizinkan, persyaratan modal awal yang sangat diturunkan, ditempatkan pada batas-batas kewajiban direktur, dan undang-undang kepailitan yang direformasi.Reformasi ini dilakukan dengan beberapa tujuan yang dicari oleh para pembuat kebijakan di Pemerintah Jepang. Pertama, reformasi ini dimaksudkan untuk menciptakan perusahaan yang lebih transparan sistem pemerintahan dari sudut pandang pemegang saham dan, kedua, untuk memodernisasi perusahaan
hukum untuk mengakomodasi tuntutan pendanaan industri baru. Ketiga, reformis berharap untuk meningkatkan intermediasi keuangan, langkah-langkah modal ventura terutama penggalangan dana dan, keempat, untuk menciptakan lebih besar kongruensi dengan meningkatnya internasionalisasi praktek hukum perusahaan dan norma-norma. Akhirnya, ada tujuan modernisasi istilah teknis bahasa dan mengkonsolidasikan ketentuan hukum perusahaan, (Egashira 2005). Pada tahun 2002, salah satu dari rangkaian reformasi untuk kode komersial diizinkan opsional 3 Untuk diskusi yang sangat baik, lihat Milhaupt 2001, Gilson & Milhaupt 2004, dan Nottage & Wolfe 2005.
adopsi bentuk pemegang saham berorientasi, Anglo-Amerika dari opsi tata kelola perusahaan untukPerusahaan Jepang yang disebut “sistem komite” (iinkai secchi Kaisha; disingkat “iinkai” dalam ini kertas.). Atau, perusahaan bisa melanjutkan dengan sistem incumbent “hukum auditor”, disebut secchi kansayaku Kaisha, disebut “kansayaku” dalam tulisan ini. Hukum menjadi tersedia dalam 2003 dan sekitar 40 perusahaan publik yang diadopsi sistem iinkai pada tahun pertama, tumbuh 112 perusahaan oleh Januari 2008, meskipun beberapa perusahaan telah dicabut adopsi (JCAA 2008). Ini mewakili sebagian sangat kecil dari lebih dari 3000 perusahaan publik di Jepang. Para Kansayaku Sistem Sebelum 2006, sebuah perusahaan kansayaku memiliki setidaknya satu direktur dan satu perwakilan auditor. Dewan direksi menunjuk wakil direktur, yang secara hukum dan secara pribadi mewakili perusahaan, dan secara opsional dapat menunjuk direktur eksekutif bawahan. Para direktur dan wakil direktur eksekutif mengelola perusahaan di bawah pengawasan dewan direksi. Kansayaku ini adalah dinominasikan oleh perwakilan direksi dan dikonfirmasi oleh pemegang saham. Sementara peran mereka berbeda, tergantung pada ukuran perusahaan, kansayaku fundamental adalah untuk mengaudit akuntansi keuangan dan sertifikasi yang tepat para direktur ‘ dan pelaksanaan hukum affairs.4 Dalam perusahaan besar, lebih dari satu auditor melakukan tugas ini. Dalam sebuah perusahaan kansayaku, baik dewan direksi dan auditor perusahaan diharapkanuntuk memantau dan mengendalikan perusahaan, tapi kansayaku yang diperoleh reputasi ketidakefektifan dalam hal ini 4 Dalam hukum perusahaan Jepang, ada aturan tambahan untuk sistem audit, tergantung pada ukuran perusahaan,
Takahashi, S. E., Madoka (2005). “Masa Depan Corporate Governance Jepang: Reformasi 2005.” Journal Hukum Jepang 19 (35) .. Untuk perusahaan kecil, misalnya, struktur iinkai penuh tidak diperlukan. Selain itu, peran auditor perusahaan di sebuah perusahaan kecil hanya dengan akuntansi audit dan tidak termasuk auditor perusahaanfungsi. Untuk studi ini, hanya meneliti perusahaan publik, yang semuanya besar dengan definisi hukum, dan komentar yang
terbatas pada fitur-fitur hukum Jepang yang relevan dengan perusahaan besar. peran, (Sarra dan Nakahigashi 2002). Mereka tidak dicalonkan oleh pemegang saham dan jarang ditolak oleh mereka, yang kurang didukung dengan staf dalam dengan loyalitas yang terpecah, dan telah miskin status sebagai mereka sering dipandang sebagai karyawan senior yang gagal untuk menjadi direktur (Ahmadjian 2003). Mungkin yang lebih penting, yang tidak memiliki sanksi kansayaku otoritas-yang kekuatan untuk mencalonkan, menunjuk, atau menghapus direktur-dan dengan demikian tidak bisa selalu menegakkan pemegang saham atau kepentingan karyawan. Selanjutnya, sering board yang menominasikan auditor terdiri dari manajer yang jarang menantang chief executive. Jadi, pertanyaan tentang siapa monitor monitor yang tidak cukup diselesaikan dalam sistem ini. Dengan manajemen mempertahankan baik seleksi dan keputusan retensi sehubungan dengan kansayaku, insentif dari sistem hanya tidak termasuk kepentingan pemegang saham utama dan pemangku kepentingan lainnya, dan sehingga tidak konsisten dengan konsep advokasi stakeholder dalam governance.5 perusahaan Jepang Para Iinkai Sistem
Sistem iinkai adalah alternatif pemegang saham yang berorientasi ke sistem kansayakudiundangkan pada tahun 2002 tetapi tersedia untuk diadopsi pada tahun 2003.
Ini adalah niat asli METI, selamaperumusan reformasi di akhir 1990-an, untuk sekadar mengganti sistem kansayaku dengan Anglo- Amerika komite sistem, memberikan posisi yang lebih berpengaruh kepada pemegang saham melalui sistem pemerintahan oleh komite-komite direksi independen meniru reformasi inovasi oleh Sony, (Whittaker dan Deakin 2009). Menanggapi keinginan tubuh perusahaan mengorganisir seperti Keidanren, dan konstituen dalam METI dan organ-organ pemerintah lainnya, reformasiadalah bukan ditawarkan sebagai pilihan. Perusahaan bisa memilih salah satu pemegang saham mengikuti sistem persetujuan. Desainer yang seharusnya bahwa ini mungkin juga membuat persaingan antara dua sistem dan dengan demikian mungkin pasar akan memilih sistem yang lebih efisien dan perbaikan 5 Mulai tahun 2006, komite kansayaku diminta untuk memasukkan auditor lebih luar. dengan tata kelola perusahaan akan mengikuti (Nottage dan Wolff 2005). Berbeda dengan perusahaan auditor hukum, perusahaan memiliki tiga komite iinkai-a mencalonkan komite, komite audit, dan kompensasi komite-dan harus menunjuk satu atau lebih petugas eksekutif. Dewan direksi menunjuk anggota komite masing-masing dari tiga atau lebih direktur, dengan sutradara luar memegang mayoritas komite masing-masing. Ini komite kekebalan untuk memveto baik oleh dewan seluruh atau manajemen keputusan, termasuk presiden atau CEO6, (Ohara 2009).
Dalam sebuah perusahaan iinkai, serupa dengan perusahaan kansayaku, otoritas eksekutif terletak dengan presiden dan pejabat eksekutif bawahan. Di sisi lain, di perusahaan iinkai, mencalonkannya Komite menunjuk Presiden dan pejabat eksekutif, dan kompensasi untuk presiden dan pejabat eksekutif ditentukan oleh komite lain tingkat dewan, tunduk pada konfirmasi oleh para pemegang saham. Selain itu, informasi keuangan dilaporkan kepada pemegang saham serta kebenaran hukum tindakan perusahaan dipantau dan disertifikasi oleh komite audit. Sejak ini kunci fungsi-eksekutif membayar, janji eksekutif, dan keuangan pemantauan yang diawasi oleh komite, mayoritas anggota yang orang luar, dan yang tidak dapat
ditolak oleh presiden, sistem iinkai itu, dan, diharapkan oleh desainer untuk menyediakan lebih
transparan dan efektif pemantauan. Hukum iinkai melarang percampuran co-fitur dari kedua auditor dan sistem iinkai. Artinya, perusahaan tidak dapat memiliki, misalnya, hanya satu atau dua dari tiga komite, atau baik 6 Dalam tulisan ini, “presiden” atau “CEO” lebih teknis dengan benar disebut “wakil direktur” atau daihyo torishimariyakyu. Kami mengadopsi istilah CEO umum untuk lebih efektif mengkomunikasikan peran paralel.perusahaan auditor dan komite audit. Namun demikian, ini bukan untuk mengatakan bahwa perusahaan kansayaku
menghindari semua bentuk sistem komite. Dalam corporate governance bentuk-versus-fungsi
fenomena diantisipasi oleh Gilson pada tahun 2001, fitur penting dari sistem iinkai seperti
direktur luar dan pemisahan manajemen eksekutif dari manajemen dewan semakin banyak diadopsi oleh perusahaan-perusahaan tradisional. Sementara hanya sekitar 100 perusahaan mengadopsi iinkai sistem, Bursa Saham Tokyo Survei tahun 2006 menemukan bahwa 42,3% dari semua perusahaan yang terdaftar telah direksi luar (TSE 2007). Selanjutnya, perbedaan antara mereka berkurang setelah tahun 2005 dan lebih sepenuhnya dieksplorasi di bagian berikutnya
.
Pada tahun 2005, Jepang memberlakukan revisi lebih lanjut untuk kode komersial, yang mereformasi wewenang dan tanggung jawab perusahaan kansayaku, bahwa baik memungkinkan dan membutuhkan mereka untuk lebih mirip perusahaan iinkai (Takahashi 2005), mengurangi ruang lingkup perbedaan institusional. Hukum dengan ketentuan bahwa, untuk perusahaan publik yang besar, sebagian besar auditor yang ditunjuk harusbersifat independen dan bahwa setidaknya satu dari auditor suatu perusahaan harus dilibatkan oleh perusahaan pada fulltime
dasar. Selain itu, undang-undang baru yang dibutuhkan perusahaan untuk membentuk badan-badan pemerintahan baik, seperti dewan yang terdiri dari konsultan kansayaku akuntansi (kaikei san’yo), atau tiga komite (Mencalonkan komite, komite audit dan komite kompensasi), yang analog dekat kerangka iinkai. Dengan hukum 2005, kemudian, sebuah perusahaan kansayaku erat bisa meniru iinkai sistem perusahaan di hampir semua fitur yang penting. Untuk keperluan makalah ini, maka, perbedaan dalam kerangka kelembagaan berada di terbesar dari 2003 sampai 2005 dan tahun-tahun adalah fokus dari percobaan alam yang kita meneliti.
3. EMPIRIS METODOLOGI
 Sampel
Database proprietary dan umum digunakan untuk penelitian ini. Untuk mempelajari keuangan perusahaaninformasi untuk perhitungan q Tobin, dua sumber yang digunakan. Sumber utama adalahThomson Finansial Satu Banker database yang menyajikan informasi keuangan dalam format standarsesuai dengan standar praktik akuntansi Jepang. Thomson mengkompilasi data darimelaporkan bahwa semua perusahaan Jepang publik, iinkai atau kansayaku, diwajibkan untuk (setara denganUS 10K bentuk) (Thomson Perusahaan 2003). Untuk non-keuangan data laporan yang tidaktersedia dari laporan Thomson, seperti adanya opsi saham, kami mengandalkan pada datasumber dari Badan Jasa Keuangan dari Pemerintah Jepang, (Jasa KeuanganBadan (2008)).Data untuk penelitian ini terdiri dari kansayaku dan perusahaan iinkai, dengan perusahaan iinkaidiidentifikasi oleh Asosiasi Auditor Perusahaan Jepang, www.kansa.or.jp, (JCAA 2008).Mereka termasuk 103 perusahaan Jepang yang telah mengadopsi sistem melalui Desember 2007. 7 Untuk kontrol untuk perbedaan antar industri, 103 perusahaan yang dikelompokkan ke dalam kelompok industri menggunakan sistem Jepang Standar Klasifikasi Industri. Dipilih perusahaan diperdagangkan secara publik dan memiliki data mengenai variabel yang relevan tersedia selama periode penelitian dari tahun 1999-2007 fiskal.
Dari 103 perusahaan yang tersedia total, harga pasar tidak secara langsung diperoleh untuk 21 perusahaan karena mereka adalah anak perusahaan dari perusahaan lain. Sebagai anak perusahaan, kemerdekaan komite dewan 7 Sebagai April 11, 2009, 114 publik, atau anak perusahaan dari perusahaan publik telah memilih sistem iinkai seperti yang dilaporkan oleh
Jepang Perusahaan Asosiasi Auditor.
Mungkin dikompromikan oleh karyawan perusahaan induk menugaskan kepada komite, yang
konsisten dengan hukum. Selain itu, sebagian besar anak perusahaan Hitachi sebagai orangtua danDimasukkannya semua perusahaan Hitachi terkait diperkirakan untuk memperkenalkan bias yang menjadi sampel.
Selain itu, empat puluh iinkai perusahaan yang cocok untuk analisis karena mereka pribadi atau
memiliki informasi yang tersedia tidak cukup disebabkan oleh kebangkrutan atau merger. Sisanya empat puluh dua iinkai perusahaan diklasifikasikan ke dalam enam tipe kategori industri: keuangan, elektronik,farmasi, manufaktur, perdagangan, dan internet / komunikasi. Lima variabel boneka
kontrol untuk industri ini berbeda dalam analisis regresi. Untuk perusahaan kansayaku, kami menugaskan semua perusahaan dari “Kaisha Shikiho ( ) 2007, “ke klasifikasi JSI dan kemudian ke salah satu dari enam industri-jenis kategori. Dari kategori ini, 86 perusahaan untuk tahun FY1999 melalui FY2007 dipilih secara acak proporsional dengan industri dalam sampel iinkai. Penelitian ini menggunakan sampel proporsional initeknik karena frekuensi perusahaan farmasi dan Internet dalam sampel iinkai yang secara substansial berbeda dari populasi perusahaan kansayaku bahwa bias mungkin terjadi jika sampling acak sederhana digunakan.
Sebagian besar perusahaan sampel memiliki 31 Mar akhir tahun fiskal dan studi menggunakan akhir tahun Data. Dalam beberapa kasus di mana tahun fiskal tidak 3 / 31, penutupan sebenarnya dalam satu kuartal dan tidak harus memperkenalkan bias yang ke hasil. Lengkap daftar iinkai dan kansayaku studi perusahaan berada dalam Lampiran 1 dan 2 masing-masing.

Dependent Variabel – q Tobin

Konsisten dengan penelitian sebelumnya, kita menggunakan rasio Tobin q untuk mengukur nilai sebuah perusahaan. Q rasio digunakan dalam studi seperti penampang perbedaan dalam investasi dan diversifikasi keputusan, hubungan kepemilikan manajerial dan nilai perusahaan, hubungan
antara kinerja manajerial dan keuntungan penawaran tender, peluang investasi dan tender
menawarkan respon, dan pendanaan, dividen, dan kebijakan kompensasi, (Chung dan Pruitt 1994). Perusahaan dengan aq> 1, sebagai lawan perusahaan dengan q <1, telah ditemukan untuk menjadi investasi yang lebih baik peluang, menunjukkan bahwa manajemen telah dilakukan baik dengan aset di bawah perintah nya (Lang, Stulz et al. 1989), dan memiliki potensi pertumbuhan yang lebih tinggi (Brainerd dan Tobin 1968). QRasio ini berguna untuk mempelajari efek dari keputusan perusahaan terhadap kinerja, terutama di mana\ metode akuntansi standar telah gagal untuk mendeteksi efek kinerja, seperti dalam peningkatan aset tidak berwujud nilai. Sebagai contoh, jika suatu perusahaan memilih strategi bisnis yang secara material meningkatkan
produktivitas marjinal aset dengan biaya marjinal kecil, nilai pasar perusahaan dapat
peningkatan meskipun tidak ada hubungan yang signifikan antara strategi yang dipilih dan keuangan rekening terdeteksi.
Rasio q digunakan secara luas sebagai ukuran nilai intangible suatu perusahaan berdasarkan
asumsi bahwa ekuilibrium jangka panjang nilai pasar perusahaan harus sama dengan
nilai penggantian aset, memberikan q-nilai dekat dengan persatuan. Penyimpangan dari hubungan ini (Di mana q adalah signifikan lebih besar dari 1) ditafsirkan sebagai penanda sumber terukur dari nilai dan umumnya dikaitkan dengan nilai intangible dalam perusahaan.
Studi telah mengeksploitasi hubungan antara q dan nilai tak berwujud untuk menguji efek dari faktor-faktor seperti R & D,iklan, dan ekuitas merek, yang dianggap berkontribusi pada nilai intangible suatu perusahaan  (Megna dan Klock 1983); (Hall dan Hall 1993); (Simon dan Sullivan 1993). Baru-baru ini, beberapa penelitian telah menggunakan rasio q untuk menetapkan hasil-hasil penting. (Ciner dan Karagozoglu 2008) ditemukan bahwa aktivitas perdagangan asing adalah informasi yang terkait dengan perdagangan di Bursa Efek Istanbul Exchange, dan baru-baru ini ditampilkan dengan menggunakan q Tobin bahwa perusahaan mendapatkan keuntungan penilaian saat memilih strategi bisnis yang didasarkan pada layanan sebagai lawan produk (Fang, Palmatier et al. 2008). Untuk studi ini, q Tobin perhitungan mengikuti metode Chung dan Pruitt (1994), yang menyelesaikan kesulitan-kesulitan praktis menghitung q-nilai karena nilai pasar dari aset
sulit untuk mendapatkan atau memperkirakan ex post. Metode mereka bukan memperkirakan nilai pasar dari perusahaan sebagai jumlah dari nilai pasar saham biasa dan preferen untuk periode yang pemeriksaan, ditambah arus kewajiban (bersih dari aktiva lancar), nilai buku persediaan, dan utang jangka panjang. Jumlah ini dibagi dengan nilai buku total aset untuk mendapatkan perkiraan qvalue bagi sebuah perusahaan. Hal ini memungkinkan penggunaan metode perhitungan data keuangan publik yang tersedia dankokoh berkorelasi dengan q-nilai dihitung dengan alternatif yang lebih kompleks methods.8Statistik Deskriptif
Tabel 1 menyajikan statistik deskriptif dari perusahaan dalam sampel kami selama fiskal
tahun 1999 sampai 2007 dikelompokkan oleh sistem pemerintahan: iinkai dan kansayaku.
Sisipkan Tabel 1 di sini 8 Chung dan Pruitt (1994) menemukan bahwa metode mereka menghitung q menjelaskan setidaknya 96,6% dari variabilitas dalam Tobin q diperoleh melalui Lindenberg dan lebih kompleks Ross Model Lindenberg, EB dan SA Ross (1981). “Q Tobin
Rasio dan Industri Organisasi “The Journal of Business 54 (1), ibid. ..
Sementara nilai-nilai q Tobin keseluruhan sistem perusahaan komite tampak lebih besar dari auditorperusahaan, perbedaan tersebut signifikan hanya setelah 2004,
(Tabel 2). Iinkai perusahaan dalam sampel juga berbeda dari perusahaan-perusahaan kansayaku sampel dalam proporsi saham yang dipegang erat, kepemilikan asing dan frekuensi rencana opsi saham, tetapi tampaknya tidak berbeda dalam keuntungan sebagai persen dari penjualan,
pendapatan per karyawan, arus kas sebagai persentase dari penjualan, atau kembali ke aset. Iinkai perusahaan, sementaram tampaknya melakukan tidak lebih baik dari perusahaan kansayaku, lebih luas dimiliki oleh asing kepentingan (26% versus 12%), dipegang oleh pemegang saham lebih erat insider (45% sampai 35%), dan lebih sering memiliki rencana opsi saham (83% sampai 34%).Terasa, q-nilai untuk kedua gaya penurunan dari tahun 2005 dan seterusnya perusahaan dan perbedaan antara median sempit untuk tak berarti pada tahun 2007. Dua kemungkinan kemungkinan tindakansecara individu atau dalam konser untuk menjelaskan penyempitan perbedaan nilai. Pertama, sistem iinkai bisa baru saat dipilih dan bertindak untuk sinyal mendorong perusahaan untuk menyambut meningkat kinerja. Ketika diferensial kinerja tidak disampaikan, evaluasi pemegang saham dapat tunduk pada revisi ke bawah.
Atau, atau dalam konser, juga mungkin bahwa berkurang perbedaan hukum formal antara dua sistem dari tahun 2005 dan seterusnya, menciptakan sebuah berkurangkomparatif diharapkan transparansi perbedaan, yaitu kejelasan berkurang dari sinyal untuk praktek tata kelola, sehubungan dengan sistem komite. Sebuah diskusi yang lebih lengkap di yang menyimpulkan bagian. Sisipkan Tabel 2 di sini Dalam industri yang berbeda, sebaliknya, data menunjukkan perbedaan yang ditandai. Angka 1 sampai 6 memberikan median Tobin q dan rentang untuk setiap industri dipelajari: perdagangan, elektronik, manufaktur, TIK, farmasi dan keuangan. Sementara perusahaan-perusahaan menggunakan iinkai mempertahankan sistem yang lebih besar rata-rata q Tobin-nilai dalam setiap industri, jangkauan dan tingkat Perbedaan tampaknya bergantung pada industri. Data menunjukkan bahwa q-nilai kecenderungan penurunan selama
kedua jenis perusahaan dari tahun 2005, dan bahwa perbedaan antara nilai-nilai sistem ‘menyempit, konsisten dengan konvergensi hukum yang mengatur perusahaan iinkai dan kansayaku setelah 2005 reformasi hukum.
Masukkan Gambar 1 sampai 6 di sini
Model Ekonometrik Spesifikasi dan Kekhawatiran
Untuk memperluas hasil univariat dan menentukan apakah mereka kuat untuk mengendalikan
untuk variabel-variabel keuangan dan pemerintahan, serta untuk mengendalikan industri perusahaan, sebuah Tobit acak-efek regresi panel digunakan untuk menganalisis data.
Variabel dependen dari penelitian, q Tobin, adalah variabel kontinu dan dibutuhkan hanya
non-negatif nilai antara nol dan satu. Karena nilai persentil adalah kiri-disensor, yang Tobit
model regresi asumsi homoskedastic, kesalahan biasanya didistribusikan dengan disensor
data sehingga konsisten dengan dataset kami. Kami regresi dengan Tobin q terhadap data yang independen variabel dari sistem tata kelola perusahaan, satu set variabel untuk mengontrol pemerintahan dan efek keuangan, dan pada satu set variabel dummy untuk kategori yang berbeda dari perusahaan. Untuk variabel independen penelitian, sistem iinkai dimodelkan sebagai variabel dummy yang mengambil Nilai satu jika perusahaan telah memilih sistem itu.
Variabel
Pemerintahan Kontrol-Dari literatur yang tersedia, terbatas pada studi yang konsisten
dengan data yang tersedia untuk penelitian kami, empat indikator tata kelola perusahaan dipilih: yangukuran dewan direksi, kehadiran rencana opsi saham, rasio utang terhadap ekuitas – sebagai
ukuran pilihan risiko perusahaan dan sebagai variabel pilihan direktur dari perusahaan
struktur, dan, terakhir, proporsi saham dipegangAgrawal dan Knoeber (1996) meneliti mekanisme untuk mengurangi biaya keagenan dengan kontrolmekanisme seperti struktur utang. Mereka menemukan bahwa mengendalikan pemegang saham, direksi luar,Komposisi dan struktur utang papan antara aspek-aspek lain, saling bergantung dan menentukan dalam
menentukan nilai perusahaan dalam hal Tobin Q. Setelah sastra yang, ukuran papan kami
variabel menangkap gagasan bahwa papan yang lebih besar lebih setuju untuk kontrol oleh sebuah faksi kecil bersekutu dengan CEO yang mungkin memiliki kesempatan untuk memajukan kepentingan pribadi.
 Karena berpendapat bahwa aspek-aspek tata kelola perusahaan yang berbeda akan menentukan struktur utang perusahaan, kamimenggunakan rasio utang terhadap ekuitas untuk menangkap ini. Bahwa ini adalah pilihan eksogen dari kebijakan adalah didukung oleh literatur kontrol mirip dengan Agrawal, dan Knoeber. Demikian pula, satu set kaya literatur menunjukkan bahwa papan yang secara kolektif memiliki lebih besar proporsi saham di sebuah perusahaan fokus diduga termotivasi berbeda dari papan memilikisaham, beberapa variabel menangkap proporsi saham yang dipegang digunakan untuk mengendalikan efek berbeda digali di perusahaan. Beberapa studi empiris telah membuat banyak dipegang proporsi saham sebagai mekanisme kubu, (Kaplan dan Minton 1994);(Bebchuk, Cohen et al. 2004)) .9 Selain itu, (Bebchuk dan Fried 2004) yang tinggi tingkat associate dipegang saham dengan membayar CEO rendah dan lebih baik governance.10 Schmidt dan Spindler (2002) berteori bahwa mengendalikan kepentingan status quo mencari struktur pemerintahan sebagai sarana untuk mengekstrak kepemilikan sewa. Dalam konteks tulisan ini, perusahaan dengan pemilik mengendalikan, motivasi sebagai Schmidt dan Spindler berhipotesis, mungkin menolak adopsi dari sistem iinkai. Dengan demikian, kami
kontrol untuk efek ini dengan memasukkan variabel persentase saham yang dimiliki oleh petugas. Meskipun, karena data ini tidak tersedia untuk semua perusahaan, kami menganalisis efek ini dalam model ketiga, terdiri dari 221 sampel pengamatan bahwa laporan saham dipegang.
Kami menangkap pengaruh praktek bisnis asing oleh termasuk dua variabel, asing penjualan sebagai persen dari total, dan adanya rencana opsi saham. Dalam perusahaan Jepang pemerintahan sastra, pemegang saham berorientasi iinkai sistem dipandang sebagai Anglo-Amerika – atau setidaknya asing – sistem dan ada beberapa bukti dalam literatur bahwa kepemilikan asing dan pengaruh dapat mengubah nilai perusahaan, (Asaba 2005). Untuk mengendalikan pengaruh asing pada tata kelola perusahaan, penelitian ini diukur kepemilikan asing sebagai persentase dari total saham beredar. Ukuran lain pengaruh asing mungkin rencana opsi saham baru-baru implementasi di Jepang. Meskipun awalnya diumumkan pada tahun 1997, rencana ini direformasi 2002 dalam perubahan hukum yang sama perusahaan yang menciptakan sistem iinkai. Penelitian ini menggunakan Penerapan, sebuah inovasi di Jepang, sebagai kontrol untuk pengaruh asing dan efek potensi pada q, mirip dengan kepemilikan asing, dan dengan demikian mencakup variabel dummy yang mengambil nilai satu jika perusahaan memiliki rencana opsi saham. 9 kubu, dalam hal ini, berarti struktur dan mekanisme tata kelola perusahaan yang menghalangi penggantian manajer yang mengontrol aset. 10 Sebaliknya, studi Miyajima 2006, dengan menggunakan skor corporate governance untuk menangkap kubu, menemukan erat
memegang proporsi saham yang tidak terkait dengan kinerja. Kontrol Kinerja Keuangan-Untuk menguji variabel kinerja yang disarankan oleh literatur ini, kami menyajikan model menggunakan, return on asset, penjualan per karyawan, penjualan asing, dan dividen. Untuk kontrol kinerja keuangan, penelitian kami bergantung pada literatur empiris dalamekonomi, keuangan, hukum, dan tata kelola perusahaan Jepang yang telah dimodelkan kinerja perusahaan
(Hoshi, Kashyap et al, 1991.); (Bebchuk, Cohen et al 2004.).
 Penelitian lain untuk Amerika Serikattelah menemukan bahwa q Tobin ini terkait dengan langkah-langkah keuangan umum (Hermalin dan Weisbach 1991); (Gompers, Metrick et al, 2002) seperti penjualan, arus kas, dan laba dari operasi.. Sejak Q Tobin dipengaruhi oleh nilai pasar atau nilai buku perusahaan, kami mencari kontrol antara variabel kinerja umum yang mungkin paling langsung mempengaruhi buku atau pasar nilai. Pengembalian aset adalah ukuran umum dari efisiensi operasional perusahaan. Sebuah positif kembali menyiratkan bahwa perusahaan adalah menghasilkan keuntungan dan uang tunai, dan lebih efisien, hal ini dengan seperangkat aset, semakin besar kembali. Kembali masa depan juga ditingkatkan sebagai penggunaan yang lebih efisien aset menyiratkan kebutuhan dana lebih rendah kotor dari sebuah perusahaan kurang efisien. Dengan demikian, kami kira bahwa pengembalian aset menangkap panolopy kinerja operasional seperti laba dan kas aliran data tetapi manfaat dari menjadi rasio yang tidak berdimensi langsung dibandingkan seluruh perusahaan dalam baris yang sama dari bisnis.Produktivitas perusahaan juga merupakan refleksi dari efisiensi penggunaan aset dan
lingkungan di mana perusahaan beroperasi. Sementara perkiraan produktivitas faktor total dan
produktivitas modal tidak didukung oleh ruang lingkup data dalam analisis ini, penjualan per
karyawan adalah ukuran umum dari produktivitas secara keseluruhan perusahaan. Penjualan per karyawan telah digunakan untuk mempelajari produktivitas perusahaan mobil Jepang, (Cusmano 1985), efektivitas manajemen sumber daya manusia, (Huselid, Jackson et al. 1997), dan menjelaskan produktivitas keuntungan dari arus modal manusia dan teknologi di seluruh domain keuntungan nasional, (Saxenian 2002). Kami mengadopsi itu untuk mengendalikan dampak perubahan produktivitas pada nilai perusahaan. (La Porta, Lopez-de-silane et al. 2000) menemukan, dalam analisis empiris di beragam ekonomi nasional domain, bahwa dividen yang lebih tinggi dapat dikaitkan dengan hak pemegang saham. Untuk kontrol untuk efek ini, kita juga termasuk dividen, diukur sebagai log dari pembayaran tahunan, berikut analisis sebelumnya kembali akhir dari perspektif teori keagenan. Dalam menghitung logaritma, kami memastikan minimisasi bias dengan mempertahankan semua perusahaan, termasuk mereka dengan nol
dividen, dengan menggunakan epsilon kuantitas yang sangat kecil dalam sel dinyatakan nol.
Semua model juga kontrol untuk klasifikasi industri perusahaan dengan lima boneka
variabel untuk mesin, elektronik, manufaktur, keuangan, dan perdagangan (ritel dan grosir)
industri memegang industri farmasi sebagai baseline. Kami menyajikan tiga model efek acak Tobit regresi.
Model 1 memasuki perusahaan pemerintahan dan variabel kinerja, namun untuk menghindari kesulitan-kesulitan ekonometrik diberikan beberapa perusahaan tidak melaporkan data kepemilikan, model ini tidak termasuk variabel kontrol insider.
Model 2 mempekerjakan instrumen untuk mengatasi kekhawatiran bahwa pengembalian aset dapat endogen dengan menggunakan keuntungan sebagai persen dari penjualan sebagai salah satu bahan lebih efisiensi dalam kembali ke aset. Ini adalah ukuran dari efisiensi operasi uang tunai untuk sebuah perusahaan fokus tetapi pada terbaik hanya lemah terkait dengan q.
Demikian pula, Model 3 menggunakan sampel agak berkurang perusahaan yang berbagi laporan manajerial untuk kontrol untuk kepemilikan manajerial dengan baik dan kontrol tata kelola keuangan yang kita bahas dalam bagian sebelumnya. Tabel 3 melaporkan hasil dari ketiga model.
Sisipkan Tabel 3 di sini
4. PEMBAHASAN
Koefisien pada variabel sistem pemerintahan adalah positif, material, dan signifikan dalam
semua model. Temuan ini menunjukkan bahwa pemilihan sistem iinkai tampaknya memberikan nilai keuntungan. Besarnya koefisien adalah bahan ekonomis menyiratkan bahwa memilih
iinkai meningkatkan sistem nilai sebuah perusahaan Tobin q oleh lebih dari 0,91 dalam model 1 dan lebih dari 1,01 di model 3. Studi ini juga menemukan bahwa di antara variabel penelitian pemerintahan, ini adalah satu-satunya variabel dengan pengaruh signifikan. Antara kontrol kinerja, variabel mengukur efisiensi perusahaan – laba atas aset – adalah signifikan pada tingkat 99% dan juga bahan di besarnya sementara semua kontrol lain telah koefisien yang tidak signifikan. Ketika ROA adalah diinstrumentasidengan efisiensi penjualan, (keuntungan sebagai persentase penjualan), variabel kontrol tidak signifikan. Ini menyiratkan bahwa variabel teramati, atau endogenitas dari variabel ROA, memberikan kontribusi kepada perusahaan signifikansi dalam model non-diinstrumentasi. Karena variabel bunga, perusahaan sistem pemerintahan, memiliki besaran yang sama dan arti dalam kedua pendekatan, kita yakin bahwa, di samping grafik analitik univariat dan studi peristiwa, bahwa sistem seleksi tampaknya menjadi penyebab nilai perusahaan meningkat setelah pemilihan. Hasil ini konsisten dengan ide bahwa perubahan tata kelola perusahaan sinyal, daripada peningkatan operasional, dan sinyal memanifestasikan dirinya sebagai nilai tak berwujud. Untuk menambah ketahanandengan gagasan bahwa mungkin berwujud mengemudi q-nilai, koefisien pada variabel dummy untuk elektronik, perdagangan, dan industri manufaktur yang negatif, dengan obat-obatan menjadi industri dasar dalam regresi.
Dalam hal kontrol keuangan, seleksi industri tampaknya menjadi penentu penting dari
nilai. Q Tobin Meningkatkan dikaitkan dengan aset tidak berwujud meningkat. Karena teknologi dan perusahaan informasi terkait dengan berwujud modal manusia, kami berharap dan menemukan bahwa perusahaan-perusahaan di informasi, komunikasi dan segmen industri teknologi memiliki nilai lebih besar dari yang lain industri. Kami menemukan bahwa koefisien pada semua variabel yang tidak signifikan menunjukkan bahwa meningkatkan nilai q di perusahaan iinkai bukanlah hasil dari operasi atau kinerja pembayaran. Para koefisien negatif yang signifikan dari tingkat pembayaran dividen tidak terus dalam signifikansi atau sign
dalam analisis diinstrumentasi, berarti, seperti dalam kasus pengembalian aset, bahwa variabel teramati dapat mempengaruhi nilai ini. Perlu dicatat bahwa hasil dalam model 3 menemukan tidak ada koefisien yang signifikan pada erat diadakan variabel berbagi. Kami berhipotesis bahwa perusahaan dengan proporsi yang lebih besar kepemilikan olehluar akan cenderung menolak penerapan sistem iinkai dengan kebutuhannya suntik luar ke dalam keputusan dewan.
Namun, nilai kecil dan tidak penting dari koefisien membuatnya juga mungkin bahwa, sejak iinkai perusahaan tentu mengatasi beberapa oposisi, sisa efek pada nilai perusahaan dari perlawanan yang terus berlanjut, jika ada, tidak terdeteksi. Kinerja, endogenitas dan Waktu
Kami menemukan bahwa ada si perbedaan nilai antara perusahaan sistem yang berbeda, namun telah meninggalkan terselesaikan untuk arah kausalitas. Untuk, itu nya bahwa sistem komite atmosfer bertambah sebuah perusahaan nilai atau lakukan hanya perusahaan-perusahaan yang lebih baik pilih sysem komite? Untuk lebih memahamiperbedaan nyata dalam nilai, itu adalah menarik untuk melihat;) jika perusahaan-perusahaan yang dipilih panitia sistem berbeda dari perusahaan-perusahaan yang tidak sebelum adopsi dari sistem baru, b) jika adopsi komite sistem temporal dikaitkan dengan peningkatan nilai, dan, c) jika perusahaan yang mengadopsi sistem bereaksi sama terhadap peristiwa eksogen lainnya.
 Hal ini penting juga untuk menentukan mekanisme dan arah kausal nilai meningkat karena, jika kenaikan nilai memanifestasikan segera setelah adopsi sistem baru, itu berarti bahwa nilai pasar perusahaan telah berubah (yang pembilang dari perhitungan q), yang bertentangan dengan nilai likuidasi atau efisiensi perusahaan aset (penyebut). Kami memeriksa pertanyaan-pertanyaan ini dengan analisis univariat kinerja data, dan studi acara untuk menganalisis sifat temporal dan keunikan dari setiap perubahan nilai. Kami memeriksa lintasan ukuran kinerja bagi perusahaan yang memilih iinkai sistem di 2003 dan membandingkannya dengan perusahaan kansayaku. Kami melacak periode TA 1999 melalui TA 2008, sehingga melihat data dua tahun sebelum sistem ini bisa secara resmi diadopsi untuk menilai perbedaan sebelum pemilihan sistem baru dan untuk menangkap perubahan nilai pada kedua adopsi. Untuk analisis univariat, kami meneliti; return on asset, return on equity, total pengembalian investasi, untuk menangkap kinerja; pendapatan asing sebagai persen dari total, dan penelitian dan pengeluaran pembangunan sebagai persentase dari penjualan, untuk menangkap diskusi penting dalam akademik dan bisnis literatur tentang strategi penting bagi perusahaan Jepang. Hasilnya ditunjukkan dalam angka 7 meskipun 11.
Masukkan Gambar 7 sampai 11 di sini.
Ada perbedaan nyata antara tidak ada bahan kansayaku dan iinkai perusahaan mantan
ante, ex post atau pemilihan dari sistem komisi oleh perusahaan iinkai dalam hal kinerja, dengan
kecuali hanya menjadi keuntungan untuk perusahaan auditor sehubungan dengan pendapatan asing di tahun 2003. Selanjutnya, sedangkan untuk komite-berupa perusahaan secara konsisten menghabiskan sedikit lebih dari perusahaan auditor pada penelitian dan pengembangan, t-tes (tersedia dari penulis) menunjukkan bahwa perbedaan tersebut tidak signifikan sebelum atau setelah pemilihan sistem baru. Singkatnya, analisis univariat tidak mendukung argumen endogenitas bahwa perusahaan-perusahaan yang dipilih sistem komisi tersebut mungkin telah
sudah keuntungan yang akan dinyatakan dalam kinerja yang lebih besar atau nilai. Untuk menganalisis temporal dan kemungkinan manifestasi unik dari nilai, dan untuk menambahkan
lanjut robustness untuk gagasan bahwa perusahaan memilih sistem komite tidak unik sebelum
seleksi, kami mempelajari data periode yang lebih lama, FY1999 melalui FY2007, menggunakan studi acarametodologi. Hipotesis nol kami adalah bahwa hal memilih sistem komite tidak memiliki abnormal, diferensial mempengaruhi nilai q perusahaan yang dipilih itu.
Mengatakan sebaliknya, kita ingin mencari apakah ajang pemilihan mempengaruhi nilai-nilai q berbeda dari non-memilih perusahaan tetapi bahwa peristiwa sebelumnya tidak.Untuk menguji hipotesis ini, biarkan “TQ terantisipasi” menjadi perbedaan antara nilai q diukur dari perusahaan dan nilai yang diharapkan disebabkan variasi tak terduga dalam q,:(1) di mana adalah nilai Tobin mengamati q untuk perusahaan i pada waktu j, diberikan oleh:
Setelah Chung dan Pruitt, (1994), (2) dan masalah umum dan disukai perusahaan saham masing-masing, adalah persediaan, adalah utang bersih, adalah total aset, dan adalah vektor yang terdiri dari informasi keuangan, keputusan, dan hasil perusahaan. Menghitung nilai-nilai untuk tahun FY1999 meskipun TA 2008, dengan menggunakan Bank of Japantingkat diskonto sebagai, dan indeks Nikkei 225 kembali untuk memperkirakan pasar, nilai rata-rata , Dari 38 perusahaan sistem komite dan 75 perusahaan auditor yang dipilih secara acak, (dinormalkan ke pasar beta), yang ditunjukkan pada Gambar. 9 dengan p =. 05 batas. Pada, kita menyesuaikan tanggal yang komite sistem perusahaan menerapkan sistem. Hasilnya adalah pada gambar 12, di bawah ini.
Masukkan Gambar 12 di sini
Sebelum pengumuman tersebut, tidak ada variasi tak terduga dalam sistem baik terbukti, sedangkan di tahun bahwa perusahaan menerapkan sistem baru, nilai-nilai q dari perusahaan sistem komite menyimpang dari memprediksi nilai-nilai pada tingkat kepercayaan 95% yang signifikan, menyebabkan kita menolak hipotesis nol bahwa tidak ada efek diferensial akan terwujud sendiri. Selanjutnya non-penyimpangan dari nilai diprediksi Data ini
sugestif dari sebuah manifestasi langsung dari nilai pada pengumuman dan konsisten dengan
gagasan bahwa evaluasi pemegang saham ‘perubahan perusahaan menyebabkan perubahan q values.11
Peristiwa eksogen lainnya dapat menyebabkan penyimpangan dari nilai-nilai q aktual dari yang diperkirakan tetapi mengingat keselarasan buatan tanggal pengumuman untuk analisis ini, yang tidak mungkin. Kami selaras tanggal pengumuman dari semua perusahaan pada t = 0, terlepas dari apakah itu 2003, 2004 atau setiap tahun. Jadi, sebuah acara eksogen alternatif akan perlu memiliki pola efek sementara identik dengan tahun adopsi perusahaan iinkai dan hanya mempengaruhi perusahaan-perusahaan tertentu. Kami melihat ini sebagai keadaan tunggal tidak mungkin.
5. KESIMPULAN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeteksi jika ada bukti empiris yang berbeda
nilai perusahaan yang berbeda antara sistem tata kelola perusahaan co-ada di samaperekonomian. Kami menemukan bahwa sistem pemerintahan iinkai perusahaan menghasilkan nilai yang lebih tinggi perusahaan dari pemerintahan kansayaku tradisional. Penelitian ini juga menemukan bukti bahwa itu adalah pemerintahan sinyal yang diberikan oleh adopsi dari sistem hukum yang kredibel, bukan keuangan variabel kinerja, yang menjelaskan perbedaan ini. Sebab, tanpa bukti yang jelas keunggulan kinerja, dan dengan keuntungan berkurang sebagai perbedaan institusional berkurang, nilai tampaknya berasal dari perbedaan utama antara sistem, yang merupakan masuknya orang luar yang independen dari papan dan kontrol manajerial pada komite. 11 ini q-nilai dapat ditingkatkan melalui penyebutnya, jika, untuk nilai pasar tertentu, aset kurang digunakan, atau melalui pembilang, dengan meningkatkan nilai pasar di pasar saham. Karena peningkatan nilai dalam mengantisipasi iinkai sistem adopsi,

make a comment

REFERENSI BUKU ETIKA BISNIS

Gambar : Halaman depan buku referensi mata kuliah Etika Bisnis

  1. Ringkasan Materi Bab 5 : Pendekatan Etis Untuk Pengambilan Keputusan ( Judul asli :Approaches to Ethical Decision Making )

Kerangka kerja Pengambilan Keputusan Etis ( EDM- Ethical Decision-Making Framework)
Keputusan atau tindakan yang dianggap etis atau “baik” jika sesuai dengan standar tertentu. Para Filsuf telah mempelajari standar merupakan hal penting selama ribuan tahun, dan ahli etika bisnisbaru telah menerapkan pada pekerjaan mereka. kedua kelompok telah menemukan bahwa satustandar saja tidak cukup untuk memastikan keputusan etis. Akibatnya,  EDM kerangka kerjamengusulkan bahwa keputusan atau tindakan dapat dibandingkan pada empat standar penilaian yang komprehensif untuk perilaku etis, yaitu :

  1. konsekuensi atau well-offness dibuat dalam hal keuntungan bersih atau biaya
  2. hak dan kewajiban yang terkena dampak
  3. keadilan yang terlibat
  4. motivasi atau kebajikan yang diharapkan

Consequentialists bermaksud memaksimalkan utilitas yang dihasilkan oleh keputusan.
Konsekuensialisme berpendapat bahwa tindakan yang secara moral benar jika dan hanya jikatindakan yang memaksimalkan kebaikan.Dengan kata lain, suatu tindakan dikatakan itu keputusanetis jika konsekuensi yang menguntungkan lebih besar daripada konsekuensi negatifnya.

Investor etis dan investor lainnya, serta kelompok stakeholder, cenderung tidak mau memeraskeuntungan terakhir dari keuntungan dari tahun berjalan jika itu berarti merusak lingkungan atau hak stakeholder lainnya. mereka percaya dalam mengelola korporasi satu dasar yang lebih luas daripada keuntungan jangka pendek saja, biasanya, maksimalisasi keuntungan dalam kerangka waktu yang lebih lama dari satu tahun membutuhkan hubungan harmonis dengan kelompok stakeholder yang paling banyak dan kepentingan mereka. perusahaan menemukan bahwa di masa lalu mereka telahsecara sah dan bertanggung jawab kepada pemegang saham pragmatis, tetapi mereka juga menjadi semakin bertanggung jawab kepada para pemangku kepentingan.

Banyaknya stakeholder dan kelompok-kelompok pemangku kepentingan membuat keinginan untuk mengidentifikasi satu pegangan umum kepentingan yang akan digunakan untuk fokus analisis dan pengambilan keputusan pada dimensi etis.Untungnya, pembuat keputusan dapat mengkonsolidasikan kepentingan kelompok stakeholder ke dalam tiga pengadaan umum berikut,fundamental, dan kepentingan:

  1. kepentingan mereka harus lebih baik sebagai hasil dari keputusan
  2. keputusan mereka harus menghasilkan distribusi yang adil dari manfaat dan beban
  3. keputusan tidak boleh menyinggung salah satu hak dari setiap stakeholder, termasukpembuat keputusan

Pengukuran Dampak yang Dapat Diukur
Keuntungan adalah dasar untuk kepentingan pemegang saham dan sangat penting untukkelangsungan hidup dan kesehatan perusahaan kita. Keuntungan adalah ukuran jangka pendek, dan bahwa beberapa dampak penting tidak tertangkap dalam penentuan laba.

Item tidak termasuk laba: terukur secara langsung
ada dampak atau keputusan perusahaan dan kegiatan yang tidak termasuk dalam penentuan labaperusahaan namun menyebabkan dampak. Misalnya, ketika sebuah perusahaan mencemari, biayapembersihan biasanya diserap oleh individu, perusahaan, atau kota. Biaya-biaya yang disebut sebagai eksternalitas, dan dampaknya sering dapat diukur secara langsung dengan biayapembersihan yang dikeluarkan oleh orang lain.

Item tidak termasuk laba: tidak terukur secara langsung
Eksternalitas lainnya ada di mana biaya ini termasuk dalam penentuan keuntungan perusahaan,tetapi manfaat yang dinikmati oleh orang di luar perusahaan. Sumbangan atau beasiswa adalah contoh dari jenis eksternalitas, dan jelas akan menarik untuk memasukkan perkiraan manfaat yang terlibat dalam evaluasi secara keseluruhan keputusan yang diusulkan.

2.  Ringkasan Materi Bab 6: Etika Mengelola Rrisiko dan Peluang ( Judul asli : Managing Ethics  Risks and Opportunities)

Banyak ahli dan praktisi sukses, berlangganan ke pandangan bahwa karyawan memandang perlakuan mereka terhadap perusahaan menentukan apa yang karyawan pikirkan tentang program etika bisnis perusahaan. Akibatnya, jika suatu organisasi ingin karyawan untuk mengamati satu setnilai-nilai etika perusahaan, para pekerja harus yakin bahwa organisasi benar-benar berarti apa yang dikatakannya, dan harus ada tingkat kepercayaan yang memungkinkan keyakinan ini untuk berkembang. memperlakukan karyawan yang tepat bukan hanya etika, sangat penting untuk merekamelaksanakan program etika organisasi dan untuk mencapai tujuan strategis perusahaan.

Sebagai paradigma akuntabilitas perusahaan terus bergeser ke arah meningkatkan akuntabilitas kepada stakeholders, manajer dan akuntan profesional harus terlibat sebagai desainer,mempersiapkan, dan penyedia jaminan. mengembangkan sistem akuntabilitas sosial yang efektifakan sangat memudahkan manajemen yang lebih baik dari budaya etis organisasi dan kinerja. itu akan bernilai baik waktu untuk memantau inisiatif baru di daerah ini, termasuk pedoman pelaporankeberlanjutan yang merupakan bagian dari Global Reporting Initiative, dan Standar Akuntabilitas baruDari Institut Akuntabilitas Sosial dan Etika.

Perusahaan modern dan organisasi lain sukses karena mereka menciptakan,mempertahankan atau menginformasikan pada nilai. Akhirnya, keberhasilan tergantung padadukungan yang mereka timbulkan dari para pemangku kepentingan mereka, dan bahwa tergantung pada penghormatan yang ditampilkan untuk harapan stakeholder. Perilaku yang sesuai atau etiskarena itu terikat oleh harapan stakeholder, dan perawatan yang ditampilkan untuk penciptaanbimbingan dan cara lain untuk mendorong karyawan untuk “melakukan apa yang benar”.

Dalam era baru akuntabilitas stakeholder, organisasi akan melakukan dengan baik untuk mengamati enam norma : kejujuran, keadilan, belas kasih, integritas, prediktabilitas, danresposibilitas. nilai-nilai ini harus dibangun ke dalam pemerintahan, manajemen risiko, strategi,operasi, pengambilan keputusan etis, pengungkapan, dan manajemen krisis. Reputasi dan suksestergantung pada hal tersebut, baik apakah Anda seorang direktur, eksekutif, maupun akuntanprofesional.

make a comment

TUGAS KELOMPOK

 jl.  Gunungsari                                 jl. ngagel utara

ULASAN:

Gambar diatas  merupakan beberapa contoh baliho di Surabaya yang tidak beretika , terlihat  baliho di Jalan Ngagel utara yang terkesan ruwet dan tidak rapi, seperti  spanduk yang ditumpuk-tumpuk benar-benar membuat orang malas untuk melihatnya. Satu lagi yang di Jalan Gunung Sari kerangka reklame dibiarkan  begitu saja, hal sperti itu bisa membahayakan karena  jika  roboh akan merugikan masyarakat sekitarnya dan pengguna jalan.

Hal-seperti itu seharusnya bisa di antisipasi, jika mereka mematuhi etika yang berlaku, kesadaran diri dan peningkatan ketertiban lah yang harus lebih diperhatikan lagi. Karena keadaan  seperti itu selain membahyakan juga merusak keindahan pemandangan & tatanan kota.

make a comment

Hello world!

Welcome to Web Blog Mahasiswa Universitas Narotama Sites. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

read comment here